LATAR
BELAKANG DAN KONSEP SOSIOLOGI

DOSEN
MATA KULIAH: DRS. H. NAZLI IDRIS, M.SI
OLEH:
NING SYIFA RIDWAN
NIM:
16410063
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UIN
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke
hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan
tentang “Latar Belakang Dan Konsep Sosiologi” Makalah ini disusun sebagai salah
satu tugas mata kuliah Sosiologi.
Dalam kesempatan ini penulis
mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Yth :
1. Bapak
Drs. Nazli Idris, M.Si selaku Dosen Mata Kuliah
2. Orang Tua yang telah membantu baik moral
maupun materi
3. Teman
– Teman yang membantu memberikan masukan dalam menyusun makalah
Saya menyadari bahwa dalam
penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan,
ataupun penulisannya. Oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun, khususnya dari Dosen Mata Kuliah guna menjadi acuan dalam
bekal pengalaman bagi penulis untuk lebih baik di masa yang akan datang.
Malang, 28 Agustus 2016
NING SYIFA RIDWAN
DAFTAR ISI
Halaman
Judul …………………………………………………………………………i
Kata
Pengantar………………………………………………………………………….ii
Daftar
Isi………………………………………………………………………………..iii
Bab
1 : Pendahuluan…………………………………………………………………….1
1.1. Latar Belakang…………………………………………………………………….1
1.2.
Rumusan Masalah…………………………………………………………………1
1.3. Tujuan
Penulisan……….………………………………………………………….1
Bab
2: Isi…………………….…………………………………………………………..2
2.1. Latar Belakang Sosiologi…….……………………………………………………2
2.2.
Konsep Sosiologi…………….……………………………………………………4
2.3. Manfaat Mempelajari Sosiologi…..……………………………………………….5
Bab
3: Penutup…………………………..….………………………………………......7
3.1.
Kesimpulan…………………………..……………………………………………7
3.2. Saran……………………………………………………………………………….8
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………..9
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Istilah Sosiologi pertama kali
dikenalkan oleh Auguste Comte (tetapi dalam catatan Sejarah, Emile
Durkheim lah yang melanjutkan ‘istilah’ tersebut dan menerapkannya menjadi
sebuah disiplin ilmu). Sosiologi berasal dari gabungan 2 kata dalam bahasa
Latin yaitu Socius yang artinya teman dan Logos yang artinya ilmu. Secara
keseluruhan, Sosiologi berarti ilmu yang mempelajari masyarakat. Masyarakat
sendiri adalah kelompok atau gabungan dari individu yang saling berhubungan,
berbudaya, dan memiliki kepentingan yang relatif sama. Sosiologi bertujuan
untuk mempelajari masyarakat dengan meneliti/mengamati dan menarik kesimpulan
dari perilaku masyarakat, khususnya perilaku sosial manusia.
Sosiologi tergolong ilmu yang
fleksibel. Hal ini bisa dilihat dari sifatnya yang tersusun dari
penelitian-penelitian ilmiah yang bersifat kaku namun bisa dikritik oleh
publik karena sosiologi adalah ilmu yang berisi tentang pengetahuan
kemasyarakatan, oleh karena itu selalu dinamis dan dapat diubah-ubah sesuai dan
seiring dengan perkembangan yang terjadi di dalam objek penelitiannya
(masyarakat).
Sosiologi sendiri muncul akibat
tekanan/ancaman yang dirasakan oleh masyarakat terhadap hal-hal dan
nilai-nilai yang selama ini sudah dianggap benar dan nyaman dalam tatanan
kehidupan mereka, khususnya dalam bidang sosial. Renungan sosiologis dimulai
ketika masyarakat mulai mengalami goncangan/krisis terhadap nilai-nilai dan
prinsip hidup yang mereka pegang.
1.2.
Rumusan Masalah
1.2.1.
Bagaimana penjelasan dari latar belakang
adanya sosiologi?
1.2.2.
Bagaimana penjelasan konsep sosiologi?
1.2.3.
Mengapa kita perlu mempelajari
sosiologi?
1.3.
Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui penjelasan dari latar
belakang adanya sosiologi.
1.3.2. Untuk mengetahui penjelasan dari konsep
sosiologi.
1.3.3.
Untuk mengetahui manfaat mempelajari
sosiologi.
BAB 2
ISI
2.1.
Latar Belakang Adanya Sosiologi
Lahirnya
sosiologi di latar belakangi oleh perubahan masyarakat di Eropa barat akibat
Revolusi Iindustri (Inggris) dan Revolusi Perancis. Banyak orang pada masa itu
berharap bahwa Revolusi Industri dan Revolusi Perancis bakal membawa kemajuan
bagi semua anggota masyarakat.
Dengan munculnya Revolusi Industri,
pola-pola tradisional ditinggalkan dan muncullah tekhnologi baru yang
mempermudah sekaligus meningkatkan produksi masyarakat, dan dengan demikian
meninggalkan taraf hidupnya. Dengan berakhirnya Revolusi Perancis, semua orang
berharap bahwa kesamaan (egalite), persaudaraan (fraternite), dan kebebasan
(liberte) yang menjadi semboyan revolusi benar-benar akan terwujud.
Ketiga semboyan itu memiliki kaitan yang erat satu sama lain. Kalau pada
masa feodalisme sebelum Revolusi Perancis, masyarakat terkotak-kotak dalam
lapisan sosial yang sangat membatasi ruang bagi lapisan sosial yang lebih
rendah, setelah revolusi semua orang berharap bahwa akses terhadap semua sumber
daya sosial dan ekonomi (misalnya, pendidikan, pekerjaan) harus terbuka lebar
bagi semua orang, bukan hanya para raja, bangsawan, dan para klerus.
Demikian juga halnya dengan kebebasan dan persaudaraan. Kalau sebelumnya,
ruang politik dan sosial masyarakat dikekang lewat berbagai macam peraturan dan
kondisi sosial masyarakat yang tidak adil, setelah revolusi semua orang
berharap semua itu tidak akan terjadi lagi. Dengan demikian terciptalah
persaudaraan yang sejati, dalam arti tidak ada lagi yang megkotak-kotakkan;
kedudukan, pangkat, kelas sosial, kekayaan bukan lagi merupakan elemen-elemen
pemisah sebab sekarang ini kita semua sama dan bebas.
Namun dalam kenyataannya berbeda dengan apa yang diharapkan. Revolusi
memang telah mendatangkan perubahan, namun pada saat yang sama juga telah
mendatangkan kekuatiran yang lebih besar. Apa sesungguhnya yang terjadi? yang
terjadi adalah timbulnya anarki (situasi tanpa aturan) dan kekacauan yang lebih besar setelah Revolusi Perancis.
Disamping itu, sebagai akibat dari Revolusi Industri, timbul kesenjangan
sosial yang baru antara yang kaya dengan yang miskin. Kelas-kelas sosial
bukannya di hapus tetapi semakin nyata. Kaum buruh semakin ditekan oleh
segelintir orang yang memiliki modal dan perusahaan.
Sosiologi ini dicetuskan oleh Aguste Comte maka dari itu dia dikenal
sebagai bapak sosiologi, ia lahir di Montpellier tahun 1798. Ia merupakan
seorang penulis kebanyakan konsep, prinsip dan metode yang sekarang dipakai dalam
sosiologi berasal dari Comte. Sosiologi ini lahir di Eropa karena ilmuwan Eropa
termasuk Auguste Comte pada abad ke-19 mulai menyadari perlunya secara khusus
mempelajari kondisi dan perubahansosial.
Comte membagikan
sosiologi atas statika social dan dinamika social dan sosiologi mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut :
- Bersifat
empiris yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak
bersifat spekulatif.
- Bersifat
teoritis yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dan hasil observasi.
- Bersifat
kumulatif yaitu teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang ada
kemudian diperbaiki, diperluas dan diperhalus.
- Bersifat
nenotis yaitu tidak mempersoalkan baik buruk suatu fakta tertentu tetapi
untuk menjelaskan fakta tersebut.
Sosiologi
berasal dari kata latin socius yang berarti “Kawan” dan logos yang berarti
“Kata” atau “Berbicara”. Jadi, sosiologi berarti “Berbicara Mengenai
Masyarakat”. Bagi August Comte, Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan
kemasyarakatan umum yang merupakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan
sosiologi yang harus dibentuk berdasarkan pengamatan terhadap masyarakat bukan
merupakan spekulasi[1]. Ungkapan
ini dipublikasikan dan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul
“Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798-1857). Walaupun
banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu
pengetahuan tentang masyarakat[2].
Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki
kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari
masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati
perilaku kelompok yang dibangunnya. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan
pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan
dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.
2.2.
Konsep Sosiologi
Sesuai dengan tumbuh berkembangnya
peradaan manusia, maka berbagai ilmu pengetahuan yang tergabung dalam filsafat
kemudian memisahkan diri dan memihak pada urusannya sendiri. Tepatnya pada abad
ke-19, sosiologi muncul sebagai sosok ilmu pengetahuan yang berusaha berdiri
sendiri dengan kajian tentang kehidupan manusia dalam masyarakat, disamping
muncul pula Psikologi yang mempelajari manusia sebagai individu yang
berhubungan dengan perilaku dan sifat – sifat manusia.
Sosiologi
sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan manusia dalam masyarakat dan proses
pertumbuhannya dapat dibedakan dengan ilmu – ilmu kemasyarakatan lain seperti
Ilmu Ekonomi, Sejarah, Hukum, Antropologi Ilmu Kejiwaan dan lain sebagainya,
akan n keadaan - keadaantetapi secara kenyataan dalam praktek kehidupan
masyarakat dari kesemua ilmu – ilmu kemasyarakatan (sosial) tidak mungkin dapat
dipisahkan.
Menurut
Soejono Soekanto (1982), bahwa perkembangan dari perhatian terhadap masyarakat
terjadi pada tiap – tiap masyarakat di dunia ini. Pemikiran terhadap masysrakat
lambat laun mendapat bentuk sebagai suatu ilmu pengetahuan yang dinamakan
sosiologi, pertama kali terjadi di benua Eropa. Banyak usaha – usaha, baik yang
bersifat ilmiah aupun bersifat non ilmiah telah berusaha membentukSosiologi
sebagai Ilmu Pengetahuan yang berdiri sendiri. Beberapa pendorong utamanya
adalah meningkatkan perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat dan perubahan –
perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Berbeda dengan di Eropa, Sosiologi
di Amerika Serikat dihubungkan dengan usaha – usaha untuk meningkatkan keadaan
– keadaan social manusia dan sebagai suatu pendorong untuk menyelesaikan
persoalan yang ditimbulkan oleh kejahatan, pelanggaran, pelacuran,
pengangguran, kemiskinan, konflik, dan peperangan.
Secara
sepintas setiap orang mengetahui bahwa dalam berbagai hal seseorang mempunyai
persamaan penafsiran dengan orang lain dan dalam hal lain seseorang mempunyai
sifat – sifat yang khas bagi dirinya sendiri. Semuanya itu merupakan suatu
pengetahuan yang bersifat sosiologis, oleh karna seseorang ikut serta dalam
hubungan – hubungan social, dalam membentuk kebudayaan masyarakatnya dan
mempunyai kesadaran akan adanya persamaan dan perbedaan dengan orang lain. Hal
yang terakhir ini merupakan gambaran obyek yang dipelajari oleh sosiologi.
Kendatipun demikian belum berarti seseorang mengetahui obyek sosiologi itu ahli sosiologi,
jika dia belum mengetahui sesungguhnya sosiologi.
Sosiologi
adalah bagian dari ilmu – ilmu social yang bersama – sama menghadapi masyarakat
sebagai obyeknya. Seperti pernah dikemukakan oleh Auguste Comte bahwa sosiologi
adalah filsafat bagi manusia dan filsafat pergaulan hidup. Konsep yang
dikemukakan oleh Comte tersebut mencerminkan pengertian bahwa sosiologi itu
merupakan pengetahuan yang menyoroti secara tajam mengenai hubungan manusia,
golongan, asal, ras dan kemajuannya, serta bentuk dan kewajibannya.
Setelah sosiologi menanpakkan
wujudnya sebagai Ilmu Pengetahuan yang berguna bagi masyarakat, maka sampai
pada abad ke-20 ia mengalami perkembangan yang sangat cepat. Hal ini disebabkan
oleh karna masyarakat telah semakin terdesak oleh kebutuhan pengetahuan yang
bertanggung jawab, manusiawi dan realistis dalam setiap menjawab tantangan
hidup. Ilmu sosiologi dapat disebut sebagai Ilmu yang mempelajari tentang
manusia dalam masyarakat yang mencakup hubungan antara seorang dengan seorang,
antara perseorangan dengan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok[3].
Oleh karena objek
studinya adalah masyarakat, maka sosiologi disebut juga ilmu kemasyarakatan.
Fokusnya adalah hubungan timbal-balik antarmanusia dalam kehidupan bersama
(bermasyarakat). Pengertian dari masyarakat itu sendiri menurut beberapa ahli
antara lain:
- Prof.Selo
Soemardjan,
masyarakat adalah sekumpulan orang-orang yang hidup bersama dan
menghasilkan kebudayaan.
- Prof.Koentjaranigrat, masyarakat adalah kesatuan
hidup manusia yang berinteraksi menurut sistem adat istiadat tertentu yang
bersifat continue dan terikat oleh rasa identitas bersama, yaitu
kebudayaan. Jadi, sekumpulan orang yang terjadi hanya sebentar dan tidak
terikat oleh adat, mereka belum bisa disebut masyarakat. Contohnya
kerumunan penonton sepak bola.
Adapun
ciri-ciri sebuah masyarakat sebagai berikut:
a) Kesatuan sosial itu telah hidup
bersama cukup lama.
b) Terjadi interaksi aktif antar
individu dan kelompok.
c) Dalam berinteraksi berpedoman pada
system adat istiadat tertentu.
d) Kehidupan bersama tersebut
berlangsung terus – menerus.
e) Adanya keterikatan oleh identitas
bersama (Kebudayaan).
f) Setiap anggota merasa menjadi bagian
dari kelompoknya.
g) Mereka saling membutuhkan, saling
bergantung, dan perlu kerjasama.
h) Kehidupan bersama itu bersifat
dinamis, mengalami perkembangan dan perubahan.
2.3. Manfaat Mempelajari Sosiologi
Sosiologi adalah suatu ilmu
pengetahuan yang mempunyai objek studi masyarakat. Dengan sosiologi, dapat
mempermudah bagi yang berkepentingan untuk mengetahui dan mengungkap berbagai
misteri kehidupan masyarakat yang tidak pernah berhenti konflik dan berubah
arah, lantaran memuncaknya ketimpangan – ketimpangan kepentingan manusia.
A.
Manfaat Sosiologi dalam Perencanaan
Sosial
Perencanaan
sosial adalah suatu kegiatan untuk mempersiapkan masa depan kehidupan manusia
dalam masyarakat yang bertujuan untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah
pada masa – masa terjadinya perubahan. Secara sosiologis perencanaan ini
didasarkan pada perincian pekerjaan yang harus dilakukan dalam rangka
mempersiapkan masa depan yang lebih baik daripada sebelumnya. Secara umun
manfaat sosiologi dalam perencanaan sosial yaitu:
1. Sosiologi mempunyai dasar kemampuan
mendalam tentang perkembangan kebudayaan masyarakat.
2. Sosiologi mempunyai dasar kemampuan
memahami tentang hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan golongan
antar masyarakat.
3. Sosiologi mempunyai disiplin ilmiah
yang obyektif.
4. Dengan berpikir secara Sosiologis,
maka perencanaan sosial dapat dimanfaatkan untuk mengetahui batas
keterbelakangan dan kemajuan masyarakat dari berbagai bidang.
B.
Manfaat Sosiologi dalam Penelitian
Sosiologi
memiliki metode – metode penelitian sebagaimana halnya ilmu sosial lainnya.
Obyek penelitiannya mencakup hampir semua aspek kehidupan manusia. Dalam
penelitian sosiologi banyak menyangkut cara – cara berpikir ilmiah meliputi:
a. Pehahaman terhadap symbol, kata,
atau kode dan berbagai istilah yang digunakan masyarakat sebagai obyek
penelitian empiris.
b. Pemahaman terhadap teori sosiologi
yang memandang pola tingkah laku manusia dalam masyarakat.
c. Kemampuan mempertimbangkan berbagai
fenomena sosialyang timbul dalam kehidupan masyarakat.
d. Kemampuan berpikir dalam melihat
kecenderungan arah perubahan pola tingkah laku masyarakat.
e. Kehati – hatian dalam menjaga
argument yang logis, sehingga tidak terjebak dalam logika palsu.
C.
Manfaat Sosiologi dalam Pemecahan
Masalah
Roucek dan Warren (1984), mengatakan
bahwa masalah sosial berdasarkan
definisi yang paling tepat adalah masalah yang ditimbulkan oleh
masyarakat itu sendiri. Gejala masalah itu biasanya berupa kurang terjaminnya
kehidupan ekonomi, kurang terjaminnya kesehatan masyarakat, menurunnya
kewibawaan pemimpin dan berbagai bentuk konflik kepribadian yang terjadi dalam
kehidupan masyarakat.
Dalam
buku Sosiologi Kelompok Dan Masalah
Sosial (Abdul Syani: 1987),
disebutkan beberapa metode untuk menanggulangi masalah sosial yaitu:
1. Metode Coba – Coba (trial and error
methods), yaitu cara penanggulang paling sederhana. Contohnya melakukan upacara
adat tolak balak, yang dimaksudkan agar bahaya dan berbagai penyakit tidak
melanda kehidupan masyarakat setempat.
2. Metode Analisis, yaitu cara
penanggulangan masalah sosial dengan melakukan penelitian secara ilmiah.
3. Perencanaan sosial, yaitu suatu
metode yang didasarkan pada fakta – fakta menurut hasil penelitianilmiah dan
bukan berdasarkan pengalaman praktis atau penelitian tanpa perhitungan.
BAB 3
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1)
Sosiologi dicetuskan oleh Auguste Comte. Ia lahir di
Montpellier 1798. Ia dikenal sebagai bapak Sosiologi. Sosiologi berasal dari
kata latin Socius yang artinya “Kawan” dan Logos yang artinya “Kata” atau
“Berbicara”. Jadi, Sosiologi berarti “Berbicara Mengenai Masyarakat”. Sosiologi
ini lahir di Eropa karna para ilmuwan eropa termasuk Auguste Comte pada abad
ke-19 mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan
sosial.
2)
Perkembangan dari perhatian terhadap masyarakat terjadi pada
tiap – tiap masyarakat di dunia ini. Pemikiran terhadap masyarakat lambat laun
mendapat bentuk sebagai suatu ilmu pengetahuan yang dinamakan Sosiologi. Secara
sepintas setiap orang mengetahui bahwa dalam berbagai hal seorang mempunyai
persamaan penafsiran dengan orang lain dan dalam hal yang lain seorang
mempunyai sifat – sifat yang khas bagi dirinya sendiri. Sosiologi adalah bagian
dari ilmu – ilmu sosial yang bersama – sama menghadapi masyarakat yang mencakup
hubungan antara hubungan seorang dengan seorang, antara perseorangan dengan
kelompok, antara kelompok dengan kelompok.
3)
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempunyai obyek studi
masyarakat. Dengan sosiologi dapat mempermudah bagi masyarakat untuk mengetahui
dan mengungkap berbagai misteri kehidupan masyarakat yang tidak pernah berhenti
konflik dan berubah arah, lantaran memuncaknya ketimpangan – ketimpangan
kepentingan.
3.2. Saran
Setiap masyarakat pasti akan
mengalami masalah dalam hidupnya. Dan masalah itu timbul karna ulah masyarakat
sendiri. Masalah itu ada karna masyarakat merasa Sesutu yang diharapkannya
tidak tercapai sebagaimana mestinya. Baik dalam segi ekonomi, sosial, profesi
dan lain sebagainya. Ilmu pengetahuan sosiologi ini ada karna, adanya masalah
sosial dalam masyarakat baik itu masalah sosial antara seorang dan seorang,
perseorangan dan kelompok, ataupun kelompok dan kelompok. Obyek penelitian ilmu
pengetahuan sosiologi ini sangat tertuju pada masyarakat. Sosiologi ini sangat
membantu masyarakat dalam menyelesaikan masalah sosial yang ada didalamnya.
Saran penulis disini adalah sangat
penting bagi kita untuk mempelajari latar belakang dan konsep sosiologi dalam
pengenalan dasar terhadap ilmu pengetahuan sosiologi. Diharapkan bagi kita
sebagai mahasiswa memahami benar tentang latar belakang dan konsep sosiologi.
DAFTAR PUSTAKA
-
Syani, Abdul, 1987; Sosiologi Skematika, Teori, Dan Terapan
-
Comte,
August,The Positive Philosopy, diterjemahkan dan diringkas oleh H. Martineau,
(London: George Bell & Sons, 1896)
-
Soekanto,
Soejono, Sosiologi Suatu Pengantar, (1982)
-
Syani, Abdul,
Sosiologi Kelompok Dan Masalah Sosial, Penerbit: Fajar Agung, Jakarta
-
Roucek Dan
Werren, 1984; Pengantar Sosiologi (Terjemahan Sahat Simamora) Penerbit: PT.
Bina Aksara, Jakarta
[1]
Auguste Comte,The Positive Philosopy, diterjemahkan dan diringkas oleh H.
Martineau, (London: George Bell & Sons, 1896)
[2]
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (1982)
[3]Abdul
Syani. Sosiologi Skemetika, Teori, Dan Terapan, (Bandar Lampung: Bumi
Aksara,1992)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar