Sabtu, 22 April 2017

latar belakang dan konsep sosiologi


LATAR BELAKANG DAN KONSEP SOSIOLOGI


UIN-logo.jpg



DOSEN MATA KULIAH: DRS. H. NAZLI IDRIS, M.SI
OLEH: NING SYIFA RIDWAN
NIM: 16410063




FAKULTAS PSIKOLOGI
UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG


KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan tentang “Latar Belakang Dan Konsep Sosiologi” Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Sosiologi.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Yth :
1.        Bapak Drs. Nazli Idris, M.Si selaku Dosen Mata Kuliah
2.        Orang Tua yang telah membantu baik moral maupun materi
3.        Teman – Teman yang membantu memberikan masukan dalam menyusun makalah
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, khususnya dari Dosen Mata Kuliah guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi penulis untuk lebih baik  di masa yang akan datang.


Malang, 28 Agustus 2016



NING SYIFA RIDWAN









DAFTAR ISI

Halaman Judul  …………………………………………………………………………i
Kata Pengantar………………………………………………………………………….ii
Daftar Isi………………………………………………………………………………..iii
Bab 1 : Pendahuluan…………………………………………………………………….1
 1.1.  Latar Belakang…………………………………………………………………….1
 1.2.  Rumusan Masalah…………………………………………………………………1
 1.3.  Tujuan Penulisan……….………………………………………………………….1
Bab 2: Isi…………………….…………………………………………………………..2
 2.1.  Latar Belakang Sosiologi…….……………………………………………………2
 2.2.  Konsep Sosiologi…………….……………………………………………………4
 2.3.  Manfaat Mempelajari Sosiologi…..……………………………………………….5
Bab 3: Penutup…………………………..….………………………………………......7
 3.1.  Kesimpulan…………………………..……………………………………………7
 3.2. Saran……………………………………………………………………………….8
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………..9



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Istilah Sosiologi pertama kali dikenalkan oleh Auguste Comte (tetapi dalam catatan Sejarah, Emile Durkheim lah yang melanjutkan ‘istilah’ tersebut dan menerapkannya menjadi sebuah disiplin ilmu). Sosiologi berasal dari gabungan 2 kata dalam bahasa Latin yaitu Socius yang artinya teman dan Logos yang artinya ilmu. Secara keseluruhan, Sosiologi berarti ilmu yang mempelajari masyarakat. Masyarakat sendiri adalah kelompok atau gabungan dari individu yang saling berhubungan, berbudaya, dan memiliki kepentingan yang relatif sama. Sosiologi bertujuan untuk mempelajari masyarakat dengan meneliti/mengamati dan menarik kesimpulan dari perilaku masyarakat, khususnya perilaku sosial manusia.
Sosiologi tergolong ilmu yang fleksibel. Hal ini bisa dilihat dari sifatnya yang tersusun dari penelitian-penelitian ilmiah yang bersifat kaku namun bisa dikritik oleh publik karena sosiologi adalah ilmu yang berisi tentang pengetahuan kemasyarakatan, oleh karena itu selalu dinamis dan dapat diubah-ubah sesuai dan seiring dengan perkembangan yang terjadi di dalam objek penelitiannya (masyarakat).
Sosiologi sendiri muncul akibat tekanan/ancaman yang dirasakan oleh masyarakat terhadap hal-hal dan nilai-nilai yang selama ini sudah dianggap benar dan nyaman dalam tatanan kehidupan mereka, khususnya dalam bidang sosial. Renungan sosiologis dimulai ketika masyarakat mulai mengalami goncangan/krisis terhadap nilai-nilai dan prinsip hidup yang mereka pegang.
1.2. Rumusan Masalah
            1.2.1.  Bagaimana penjelasan dari latar belakang adanya sosiologi?
            1.2.2.  Bagaimana penjelasan konsep sosiologi?
            1.2.3.  Mengapa kita perlu mempelajari sosiologi?
1.3. Tujuan Penulisan
            1.3.1   Untuk mengetahui penjelasan dari latar belakang adanya sosiologi.
            1.3.2.  Untuk mengetahui penjelasan dari konsep sosiologi.
            1.3.3.  Untuk mengetahui manfaat mempelajari sosiologi.
















BAB 2
ISI
2.1. Latar Belakang Adanya Sosiologi
            Lahirnya sosiologi di latar belakangi oleh perubahan masyarakat di Eropa barat akibat Revolusi Iindustri (Inggris) dan Revolusi Perancis. Banyak orang pada masa itu berharap bahwa Revolusi Industri dan Revolusi Perancis bakal membawa kemajuan bagi semua anggota masyarakat.
            Dengan munculnya Revolusi Industri, pola-pola tradisional ditinggalkan dan muncullah tekhnologi baru yang mempermudah sekaligus meningkatkan produksi masyarakat, dan dengan demikian meninggalkan taraf hidupnya. Dengan berakhirnya Revolusi Perancis, semua orang berharap bahwa kesamaan (egalite), persaudaraan (fraternite), dan kebebasan (liberte) yang menjadi semboyan revolusi benar-benar akan terwujud.
Ketiga semboyan itu memiliki kaitan yang erat satu sama lain. Kalau pada masa feodalisme sebelum Revolusi Perancis, masyarakat terkotak-kotak dalam lapisan sosial yang sangat membatasi ruang bagi lapisan sosial yang lebih rendah, setelah revolusi semua orang berharap bahwa akses terhadap semua sumber daya sosial dan ekonomi (misalnya, pendidikan, pekerjaan) harus terbuka lebar bagi semua orang, bukan hanya para raja, bangsawan, dan para klerus.
Demikian juga halnya dengan kebebasan dan persaudaraan. Kalau sebelumnya, ruang politik dan sosial masyarakat dikekang lewat berbagai macam peraturan dan kondisi sosial masyarakat yang tidak adil, setelah revolusi semua orang berharap semua itu tidak akan terjadi lagi. Dengan demikian terciptalah persaudaraan yang sejati, dalam arti tidak ada lagi yang megkotak-kotakkan; kedudukan, pangkat, kelas sosial, kekayaan bukan lagi merupakan elemen-elemen pemisah sebab sekarang ini kita semua sama dan bebas.
Namun dalam kenyataannya berbeda dengan apa yang diharapkan. Revolusi memang telah mendatangkan perubahan, namun pada saat yang sama juga telah mendatangkan kekuatiran yang lebih besar. Apa sesungguhnya yang terjadi? yang terjadi adalah timbulnya anarki (situasi tanpa aturan) dan kekacauan  yang lebih besar setelah Revolusi Perancis.
Disamping itu, sebagai akibat dari Revolusi Industri, timbul kesenjangan sosial yang baru antara yang kaya dengan yang miskin. Kelas-kelas sosial bukannya di hapus tetapi semakin nyata. Kaum buruh semakin ditekan oleh segelintir orang yang memiliki modal dan perusahaan.
Sosiologi ini dicetuskan oleh Aguste Comte maka dari itu dia dikenal sebagai bapak sosiologi, ia lahir di Montpellier tahun 1798. Ia merupakan seorang penulis kebanyakan konsep, prinsip dan metode yang sekarang dipakai dalam sosiologi berasal dari Comte. Sosiologi ini lahir di Eropa karena ilmuwan Eropa termasuk Auguste Comte pada abad ke-19 mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahansosial.
 Comte membagikan sosiologi atas statika social dan dinamika social dan sosiologi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Bersifat empiris yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulatif.
  2. Bersifat teoritis yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dan hasil observasi.
  3. Bersifat kumulatif yaitu teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang ada kemudian diperbaiki, diperluas dan diperhalus.
  4. Bersifat nenotis yaitu tidak mempersoalkan baik buruk suatu fakta tertentu tetapi untuk menjelaskan fakta tersebut.
Sosiologi berasal dari kata latin socius yang berarti “Kawan” dan logos yang berarti “Kata” atau “Berbicara”. Jadi, sosiologi berarti “Berbicara Mengenai Masyarakat”. Bagi August Comte, Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan sosiologi yang harus dibentuk berdasarkan pengamatan terhadap masyarakat bukan merupakan spekulasi[1]. Ungkapan ini dipublikasikan dan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat[2].
Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.
2.2. Konsep Sosiologi
            Sesuai dengan tumbuh berkembangnya peradaan manusia, maka berbagai ilmu pengetahuan yang tergabung dalam filsafat kemudian memisahkan diri dan memihak pada urusannya sendiri. Tepatnya pada abad ke-19, sosiologi muncul sebagai sosok ilmu pengetahuan yang berusaha berdiri sendiri dengan kajian tentang kehidupan manusia dalam masyarakat, disamping muncul pula Psikologi yang mempelajari manusia sebagai individu yang berhubungan dengan perilaku dan sifat – sifat manusia.

            Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan manusia dalam masyarakat dan proses pertumbuhannya dapat dibedakan dengan ilmu – ilmu kemasyarakatan lain seperti Ilmu Ekonomi, Sejarah, Hukum, Antropologi Ilmu Kejiwaan dan lain sebagainya, akan n keadaan - keadaantetapi secara kenyataan dalam praktek kehidupan masyarakat dari kesemua ilmu – ilmu kemasyarakatan (sosial) tidak mungkin dapat dipisahkan.
            Menurut Soejono Soekanto (1982), bahwa perkembangan dari perhatian terhadap masyarakat terjadi pada tiap – tiap masyarakat di dunia ini. Pemikiran terhadap masysrakat lambat laun mendapat bentuk sebagai suatu ilmu pengetahuan yang dinamakan sosiologi, pertama kali terjadi di benua Eropa. Banyak usaha – usaha, baik yang bersifat ilmiah aupun bersifat non ilmiah telah berusaha membentukSosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan yang berdiri sendiri. Beberapa pendorong utamanya adalah meningkatkan perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat dan perubahan – perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Berbeda dengan di Eropa, Sosiologi di Amerika Serikat dihubungkan dengan usaha – usaha untuk meningkatkan keadaan – keadaan social manusia dan sebagai suatu pendorong untuk menyelesaikan persoalan yang ditimbulkan oleh kejahatan, pelanggaran, pelacuran, pengangguran, kemiskinan, konflik, dan peperangan.
            Secara sepintas setiap orang mengetahui bahwa dalam berbagai hal seseorang mempunyai persamaan penafsiran dengan orang lain dan dalam hal lain seseorang mempunyai sifat – sifat yang khas bagi dirinya sendiri. Semuanya itu merupakan suatu pengetahuan yang bersifat sosiologis, oleh karna seseorang ikut serta dalam hubungan – hubungan social, dalam membentuk kebudayaan masyarakatnya dan mempunyai kesadaran akan adanya persamaan dan perbedaan dengan orang lain. Hal yang terakhir ini merupakan gambaran obyek yang dipelajari oleh sosiologi. Kendatipun demikian belum berarti seseorang  mengetahui obyek sosiologi itu ahli sosiologi, jika dia belum mengetahui sesungguhnya sosiologi.
            Sosiologi adalah bagian dari ilmu – ilmu social yang bersama – sama menghadapi masyarakat sebagai obyeknya. Seperti pernah dikemukakan oleh Auguste Comte bahwa sosiologi adalah filsafat bagi manusia dan filsafat pergaulan hidup. Konsep yang dikemukakan oleh Comte tersebut mencerminkan pengertian bahwa sosiologi itu merupakan pengetahuan yang menyoroti secara tajam mengenai hubungan manusia, golongan, asal, ras dan kemajuannya, serta bentuk dan kewajibannya.
            Setelah sosiologi menanpakkan wujudnya sebagai Ilmu Pengetahuan yang berguna bagi masyarakat, maka sampai pada abad ke-20 ia mengalami perkembangan yang sangat cepat. Hal ini disebabkan oleh karna masyarakat telah semakin terdesak oleh kebutuhan pengetahuan yang bertanggung jawab, manusiawi dan realistis dalam setiap menjawab tantangan hidup. Ilmu sosiologi dapat disebut sebagai Ilmu yang mempelajari tentang manusia dalam masyarakat yang mencakup hubungan antara seorang dengan seorang, antara perseorangan dengan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok[3].
 Oleh karena objek studinya adalah masyarakat, maka sosiologi disebut juga ilmu kemasyarakatan. Fokusnya adalah hubungan timbal-balik antarmanusia dalam kehidupan bersama (bermasyarakat). Pengertian dari masyarakat itu sendiri menurut beberapa ahli antara lain:
  • Prof.Selo Soemardjan, masyarakat adalah sekumpulan orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
  • Prof.Koentjaranigrat, masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut sistem adat istiadat tertentu yang bersifat continue dan terikat oleh rasa identitas bersama, yaitu kebudayaan. Jadi, sekumpulan orang yang terjadi hanya sebentar dan tidak terikat oleh adat, mereka belum bisa disebut masyarakat. Contohnya kerumunan penonton sepak bola.
Adapun ciri-ciri sebuah masyarakat sebagai berikut:
a)      Kesatuan sosial itu telah hidup bersama cukup lama.
b)      Terjadi interaksi aktif antar individu dan kelompok.
c)      Dalam berinteraksi berpedoman pada system adat istiadat tertentu.
d)     Kehidupan bersama tersebut berlangsung terus – menerus.
e)      Adanya keterikatan oleh identitas bersama (Kebudayaan).
f)       Setiap anggota merasa menjadi bagian dari kelompoknya.
g)      Mereka saling membutuhkan, saling bergantung, dan perlu kerjasama.
h)      Kehidupan bersama itu bersifat dinamis, mengalami perkembangan dan perubahan.
2.3. Manfaat Mempelajari Sosiologi
            Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai objek studi masyarakat. Dengan sosiologi, dapat mempermudah bagi yang berkepentingan untuk mengetahui dan mengungkap berbagai misteri kehidupan masyarakat yang tidak pernah berhenti konflik dan berubah arah, lantaran memuncaknya ketimpangan – ketimpangan kepentingan manusia.
A.    Manfaat Sosiologi dalam Perencanaan Sosial
Perencanaan sosial adalah suatu kegiatan untuk mempersiapkan masa depan kehidupan manusia dalam masyarakat yang bertujuan untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah pada masa – masa terjadinya perubahan. Secara sosiologis perencanaan ini didasarkan pada perincian pekerjaan yang harus dilakukan dalam rangka mempersiapkan masa depan yang lebih baik daripada sebelumnya. Secara umun manfaat sosiologi dalam perencanaan sosial yaitu:
1.      Sosiologi mempunyai dasar kemampuan mendalam tentang perkembangan kebudayaan masyarakat.
2.      Sosiologi mempunyai dasar kemampuan memahami tentang hubungan manusia dengan alam sekitarnya, hubungan golongan antar masyarakat.
3.      Sosiologi mempunyai disiplin ilmiah yang obyektif.
4.      Dengan berpikir secara Sosiologis, maka perencanaan sosial dapat dimanfaatkan untuk mengetahui batas keterbelakangan dan kemajuan masyarakat dari berbagai bidang.
B.     Manfaat  Sosiologi dalam Penelitian
Sosiologi memiliki metode – metode penelitian sebagaimana halnya ilmu sosial lainnya. Obyek penelitiannya mencakup hampir semua aspek kehidupan manusia. Dalam penelitian sosiologi banyak menyangkut cara – cara berpikir ilmiah meliputi:
a.       Pehahaman terhadap symbol, kata, atau kode dan berbagai istilah yang digunakan masyarakat sebagai obyek penelitian empiris.
b.      Pemahaman terhadap teori sosiologi yang memandang pola tingkah laku manusia dalam masyarakat.
c.       Kemampuan mempertimbangkan berbagai fenomena sosialyang timbul dalam kehidupan masyarakat.
d.      Kemampuan berpikir dalam melihat kecenderungan arah perubahan pola tingkah laku masyarakat.
e.       Kehati – hatian dalam menjaga argument yang logis, sehingga tidak terjebak dalam logika palsu.
C.    Manfaat Sosiologi dalam Pemecahan Masalah
Roucek dan Warren (1984), mengatakan bahwa masalah sosial berdasarkan
definisi yang paling  tepat adalah masalah yang ditimbulkan oleh masyarakat itu sendiri. Gejala masalah itu biasanya berupa kurang terjaminnya kehidupan ekonomi, kurang terjaminnya kesehatan masyarakat, menurunnya kewibawaan pemimpin dan berbagai bentuk konflik kepribadian yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
            Dalam buku Sosiologi Kelompok Dan Masalah Sosial  (Abdul Syani: 1987), disebutkan beberapa metode untuk menanggulangi masalah sosial yaitu:
1.      Metode Coba – Coba (trial and error methods), yaitu cara penanggulang paling sederhana. Contohnya melakukan upacara adat tolak balak, yang dimaksudkan agar bahaya dan berbagai penyakit tidak melanda kehidupan masyarakat setempat.
2.      Metode Analisis, yaitu cara penanggulangan masalah sosial dengan melakukan penelitian secara ilmiah.
3.      Perencanaan sosial, yaitu suatu metode yang didasarkan pada fakta – fakta menurut hasil penelitianilmiah dan bukan berdasarkan pengalaman praktis atau penelitian tanpa perhitungan.

BAB 3
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1)      Sosiologi dicetuskan oleh Auguste Comte. Ia lahir di Montpellier 1798. Ia dikenal sebagai bapak Sosiologi. Sosiologi berasal dari kata latin Socius yang artinya “Kawan” dan Logos yang artinya “Kata” atau “Berbicara”. Jadi, Sosiologi berarti “Berbicara Mengenai Masyarakat”. Sosiologi ini lahir di Eropa karna para ilmuwan eropa termasuk Auguste Comte pada abad ke-19 mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial.
2)      Perkembangan dari perhatian terhadap masyarakat terjadi pada tiap – tiap masyarakat di dunia ini. Pemikiran terhadap masyarakat lambat laun mendapat bentuk sebagai suatu ilmu pengetahuan yang dinamakan Sosiologi. Secara sepintas setiap orang mengetahui bahwa dalam berbagai hal seorang mempunyai persamaan penafsiran dengan orang lain dan dalam hal yang lain seorang mempunyai sifat – sifat yang khas bagi dirinya sendiri. Sosiologi adalah bagian dari ilmu – ilmu sosial yang bersama – sama menghadapi masyarakat yang mencakup hubungan antara hubungan seorang dengan seorang, antara perseorangan dengan kelompok, antara kelompok dengan kelompok.
3)      Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempunyai obyek studi masyarakat. Dengan sosiologi dapat mempermudah bagi masyarakat untuk mengetahui dan mengungkap berbagai misteri kehidupan masyarakat yang tidak pernah berhenti konflik dan berubah arah, lantaran memuncaknya ketimpangan – ketimpangan kepentingan.
3.2. Saran
            Setiap masyarakat pasti akan mengalami masalah dalam hidupnya. Dan masalah itu timbul karna ulah masyarakat sendiri. Masalah itu ada karna masyarakat merasa Sesutu yang diharapkannya tidak tercapai sebagaimana mestinya. Baik dalam segi ekonomi, sosial, profesi dan lain sebagainya. Ilmu pengetahuan sosiologi ini ada karna, adanya masalah sosial dalam masyarakat baik itu masalah sosial antara seorang dan seorang, perseorangan dan kelompok, ataupun kelompok dan kelompok. Obyek penelitian ilmu pengetahuan sosiologi ini sangat tertuju pada masyarakat. Sosiologi ini sangat membantu masyarakat dalam menyelesaikan masalah sosial yang ada didalamnya.
            Saran penulis disini adalah sangat penting bagi kita untuk mempelajari latar belakang dan konsep sosiologi dalam pengenalan dasar terhadap ilmu pengetahuan sosiologi. Diharapkan bagi kita sebagai mahasiswa memahami benar tentang latar belakang dan konsep sosiologi.













DAFTAR PUSTAKA
-          Syani, Abdul, 1987; Sosiologi Skematika, Teori, Dan Terapan
-          Comte, August,The Positive Philosopy, diterjemahkan dan diringkas oleh H. Martineau, (London: George Bell & Sons, 1896)
-          Soekanto, Soejono, Sosiologi Suatu Pengantar, (1982)
-          Syani, Abdul, Sosiologi Kelompok Dan Masalah Sosial, Penerbit: Fajar Agung, Jakarta
-          Roucek Dan Werren, 1984; Pengantar Sosiologi (Terjemahan Sahat Simamora) Penerbit: PT. Bina Aksara, Jakarta

       




[1] Auguste Comte,The Positive Philosopy, diterjemahkan dan diringkas oleh H. Martineau, (London: George Bell & Sons, 1896)
[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (1982)
[3]Abdul Syani. Sosiologi Skemetika, Teori, Dan Terapan, (Bandar Lampung: Bumi Aksara,1992)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar