ANALISIS
METODE ILMIAH TERHADAP PENELITIAN PSIKOLOGI
MAKALAH
untuk memenuhi tugas ujian akhir semester mata kuliah
Filasafat Ilmu
yang dibina Dr. Zainal Habib, M.Hum
Oleh
Ning Syifa Ridwan
NIM: 16410063
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
MAULANA
MALIK IBRAHIM MALANG
Desember
2016
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke
hadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan
tentang “Analisis Metode Ilmiah Terhadap
Penelitian Psikologi” Makalah ini
disusun sebagai salah satu tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah
Filsafat Ilmu.
Dalam kesempatan ini penulis
mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada
1. Bapak Dr.
Zainal Habib,M.Hum selaku Dosen Mata
Kuliah Bahasa Indonesia
2.
Orang Tua yang telah membantu baik moral
maupun materi
3.
Teman-teman yang membantu memberikan masukan dalam menyusun
makalah
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari
sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, khususnya
dari Dosen Mata Kuliah guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi penulis
untuk lebih baik di masa yang akan datang.
Malang, 16 Desember 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR……………………………………………………............ i
DAFTAR
ISI……………………………………………………………………… ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………………….. 1
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………….. 2
1.3 Tujuan Penulisan……….……………………………………………. 2
BAB
II PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Metode Ilmiah.…………………………………………… 3
2.2 Langkah – Langkah Sistematis Dalam Metode Ilmiah…………….. 4
2.3
Penerapan Metode Ilmiah Terhadap Penelitian Psikologi…………. 8
BAB
III PENUTUP
3.1 Simpulan……………………………………………………………….
11
3.2 Saran…………………………………………………………………… 12
3.3 Daftar Pustaka………………………………………………………… 12
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Metode
ilmiah adalah prosedur atau langkah – langkah sistematis dalam mendapatkan
pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan
melalui metode ilmiah. Metode juga bermakna sebagai proses berpikir dalam
pemecahan masalah, proses berpikir sistematis, dan proses berpikir yang
terkontrol.
Penelitian adalah investigasi
sistematis yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru.Metode
ilmiah sangat penting penerapannya dalam sebuah penelitian. Karena metode
ilmiah merupakan konsep sistematis dalam mendapatkan hasil yang baik dalam
sebuah penelitian. Terutama dalam penelitian psikologi, yang memang dalam
metode – metode penelitiannya menerapkan konsep metode ilmiah.
Contohnya
seperti dalam penelitian arsip yang lebih menerapkan konsep pengujian
hipotesis, lebih
menerapkan kosep penyusunan kerangka pikiran dan perumusan hipotesis dalam
observasi naturalistik, dalam penelitian survey, penerapan dari metode ilmiah
yang paling berperan yaitu identifikasi masalah - penyusunan kerangka masalah -
perumusan hipotesis, dalam studi kasus lebih menerapkan konsep identifikasi
masalah dan penyusunan kerangka pikiran.
Dewasa ini, banyak sekali didapati
mahasiswa yang tertunda waktu wisudanya karena kurang tepat dalam menggunakan
konsep dalam penelitiannya sebagai tugas akhir.
Oleh karena itu, penulis tertarik
memaparkan analisis metode ilmiah dalam penelitian psikologi. Karena begitu
berperannya metode ilmiah dalam penelitian psikologi. Dan agar mahasiswa
psikologi dapat memahami hakikat metode ilmiah dalam penelitian psikologi yang
sesungguhnya.
1.2 Rumusan Masalah
Dari
latar belakang tersebut, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai
berikut.
a) Apa
pengertian metode ilmiah?
b) Bagaimana
langkah – langkah sistematis dalam metode ilmiah?
c) Bagaimana
penerapan metode ilmiah terhadap penelitian psikologi?
1.3 Tujuan Makalah
Dari
rumusan masalah di atas, maka tujuan makalah ini adalah sebagai berikut.
a) Menjelaskan
pengertian metode ilmiah.
b) Menjelaskan
langkah – langkah sistematis dalam metode ilmiah.
c) Menjelaskan
penerapan metode ilmiah terhadap penelitian psikologi.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah prosedur atau langkah
– langkah sistematis dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu
merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui metode ilmiah.
-
Metode ilmiah
adalah proses berpikir untuk memecahkan masalah
Metode ilmiah berangkat dari suatu
permasalahan yang perlu dicari jawaban atau pemecahannya. Proses berpikir
ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi, atau simpulan,
bukan pula berdasarkan data atau fakta khusus. Proses berpikir untuk
memecahkan masalah lebih berdasar kepada masalah nyata. Untuk memulai suatu metode
ilmiah, pertama-tama harus dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan
sedang dicari pemecahannya. Rumusan permasalahan ini akan menuntun proses
selanjutnya.
-
Metode ilmiah adalah proses berpikir secara sistematis
Dalam metode ilmiah, proses berpikir
dilakukan secara sistematis dengan bertahap, tidak zig-zag. Proses berpikir
yang sistematis ini dimulai dengan kesadaran akan adanya masalah hingga
terbentuk sebuah kesimpulan. Dalam metode ilmiah, proses berpikir dilakukan
sesuai langkah-langkah metode ilmiah secara sistematis dan berurutan.
-
Metode ilmiah adalah proses berpikir yang terkontrol
Di saat melaksanakan metode ilmiah,
proses berpikir dilaksanakan secara terkontrol. Maksudnya terkontrol disini
adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu dilakukan secara sadar dan terjaga,
jadi apabila ada orang lain yang juga ingin membuktikan kebenarannya dapat
dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang berpikir ilmiah tidak melakukannya
dalam keadaan berkhayal atau bermimpi, akan tetapi dilakukan secara sadar dan
terkontrol.
2.2 Langkah –
Langkah Sistematis Dalam Metode Ilmiah
Garis besar langkah – langkah
sistematis metode ilmiah adalah sebagai berikut:
-
Mencari, merumuskan, dan mengidentifikasi masalah.
-
Menyusun kerangka pikiran (logical construct).
-
Merumuskan hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah).
-
Menguji hipotesis secara empirik.
-
Melakukan pembahasan.
-
Menarik kesimpulan.
Tiga langkah pertama merupakan
metode penelitian, sedangkan langkah – langkah selanjutnya bersifat teknis
penelitian. Dengan demikian maka pelaksanaan penelitian menyangkut dua hal,
yaitu hal metode dan hal teknis penelitian. Namun secara implisit metode dan
teknik melarut di dalamnya (Soetriono, 2007: 157).
a)
Mencari, merumuskan, dan mengidentifikasi masalah.
Yaitu menetapkan masalah penelitian,
apa yang dijadikan masalah penelitian dan apa objeknya. Menyatakan objek
penelitian saja masih belum spesifik, baru menyatakan pada ruang lingkup mana
penelitian akan bergerak. Sedangkan mengidentifikasi atau menyatakan masalah
yang spesifik dilakukan dengan mengajukan pertanyaan penelitian (research
question), yaitu pertanyaan yang belum dapat memberikan penjelasan
(explanation) yang memuaskan berdasarkan teori (hukum/dalil) yang ada. Misalnya
menurut teori dinyatakan bahwa tidak semua orang akan bersedia menerima suatu
inovasi, sebab ada golongan penolak inovasi (laggard). Tetapi pada kenyataannya
(faktual) terdapat inovasi yang mudah diterima sehingga tidak mungkin ada
golongan yang menolaknya (laggard). Oleh karena itu, pertanyaan penelitiannya
dapat diidentifikasikan pada situasi mana atau pada kondisi mana tidak ada
golongan laggard. Dengan mengidentifikasi situasi atau kondisi yang
memungkinkan atau tidak memungkinkan secara lebih lanjut berarti telah
merumuskan masalah penelitian (Endang, 2011: 77).
Cara yang paling sederhana untuk
menemukan pertanyaan penelitian (research question) adalah melalui data
sekunder. Wujudnya berupa beberapa kemungkinan, misalnya:
1. Melihat suatu proses dari perwujudan
teori
2. Melihat linkage dari proposisi suatu
teori, kemudian bermaksud memperbaikinya.
3. Merisaukan keberlakuan suatu dalil
atau model di tempat tertentu ataupun pada waktu tertentu.
4. Melihat tingkat informative value
dari teori yang telah ada, kemudian bermaksud meningkatkannya.
5. Segala sesuatu yang tidak dapat
dijelaskan dengan teori yang telah ada, atau belum dapat dijelaskan secara
sempurna.
b)
Menyusun kerangka pikiran
Yaitu mengalirkan jalan pikiran
menurut kerangka yang logis atau menurut logical construct. Hal ini tidak lain
dari mendudukperankan masalah yang diteliti (diidentifikasi) dalam kerangka
teoritis yang relevan dan mampu menangkap, menerangkan, serta menunjukkan
prespektif terhadap masalah itu. Uapaya ditujukan untuk menjawab atau
menerangkan pertanyaan penelitian yang diidentifikasi. Cara berpikir (nalar)
kearah memperoleh jawaban terhadap masalah yang diidentifikasi ialah dengan
penalaran deduktif. Sebagaimana telah dijelaskan, cara penalaran deduktif ialah
cara penalaran yang berangkat dari hal umum (general) kepada haL – hal yang
khusus (spesifik). Hal yang umum ialah teori/dalil/hukum, sedangkan hal yang
bersifat khusus (spesifik) tidak lain adalah masalah yang diidentifikasi itu.
c)
Merumuskan hipotesis
Hipotesis ialah kesimpulan yang
diperoleh dari penyusunan kerangka pikiran, berupa proposisi deduksi.
Merumuskan berarti membentuk proposisi yang sesuai dengan kemungkinan serta
tingkat kebenarannya. Bentuk – bentuk proposisi menurut keeratan hubungannya (linkage)
serta nilai informasinya (informative value). Jika dikaji kembali menurut
proposisi, baik berupa teori maupun hipotesis, ternyata kalimat mengandung tiga
komponen, yaitu antiseden, konsekuen, dan dependensi. Dua kelompok terdahulu
merupakan bagian dari kalimat proposisi,
sedangkan komponen dependensi merupakan sifat hubungan dari antiseden dan
konsekuen merupakan linkage dalam proposisi itu. Dependensi mengandung arti
bahwa hubungan antara antiseden dengan konsekuen merupakan hubungan sebab –
akibat yang benar. Konsekuen tergantung kepada kebenaran antisedan. Antisedan
yang tidak benar menyebabkan konsekuen yang tidak benar (tidak dependen).
Beberapa syarat logika yang harus
terkandung dalam hipotesis antara lain:
ü Dapat menjelaskan kenyataan yang menjadi
masalah dan dasar hipotesis.
ü Mengandung sesuatu yang mungkin.
ü Dapat mencari hubungan kausal dengan
argumentasi yang tepat.
ü Dapat diuji baik kebenaran maupun
kesalahan.
Macam – macam hipotesis yang sering
dijumpai adalah: hipotesis deskreptif, hipotesis argumentasi, hipotesis kerja,
hipotesis nol.
·
Hipotesis Deskriptif: Hipotesis “lukisan”, menunjukkan
dugaan sementara tentang bagaimana (how) benda – benda, peristiwa – peristiwa,
atau variable – variable itu terjadi.
·
Hipotesis Argumentasi: Hipotesis “penjelasan”, menunjukkan
dugaan sementara tentang mengapa (why) benda – benda, peristiwa – peristiwa,
atau variable – variable itu terjadi. Hipotesis ini merupakan pernyataan
sementara yang diatur secara sistematis sehingga salah satu pernyataan merupakan
kesimpulan (konsekuen) dari pernyataan yang lainnya (antisedan).
·
Hipotesis Kerja: Merupakan hipotesis yang meramalkan atau
menjelaskan akibat – akibat dari suatu variable yang menjadi penyebabnya. Jadi
hipotesis ini menjelaskan suatu ramalan bahwa jika suatu variable erubah maka
variable tertentu akan berubah pula.
·
Hipotesis Nol: Hipotesis statistik, bertujuan memeriksa
ketidak benaran sebuah dalil/teori, yang selanjutnya akan ditolak melalui bukti
– bukti yang sah. Karena hipotesis ini mempergunakan perangkat
statistik/matematik maka disebut hipotesis statistik. Melalui prosedur ini maka
kita membuat dugaan dengan hati – hati, bahwa menurut pendapat kita tidak ada
hubungan yang berarti atau perbedaan yang
signifikan, dan selanjutnya kita mencoba memastikan ketidakmungkinan hipotesis
ini. Jika ternyata hipotesis ini ditolak maka pekerjaan kita pindah ke
hipotesis kerja (oleh karena itu hipotesis nol disebut kebalikan dari hipotesis
kerja).
d)
Menguji hipotesis
Ialah membandingkan atau menyesuaikan
(matching) segala yang terkandung dalam hipotesis dengan data empiric.
Pembanding atau penyesuaian itu pada umumnya didasarkan pada pemikiran yang
beranggapan bahwa di ala ini suatu peristiwa mungkin tidak akan terjadi
sendiri. Dengan kata lain, suatu sebab mungkin akan menimbulkan beberapa
akibat, atau mungkin pula suatu akibat ditimbulkan oleh beberapa penyebab.
e)
Membahas dan menyimpulkan
Dalam membahas sudah termasuk
pekerjaan interpretasi terhadap hal – hal yang ditemukan dalam penelitian.
Dalam interpretasi, pikiran kita diarahkan pada dua tititk pandang. Pertama,
kerangka pikiran (logical contruct) yang telah disusun, bahkan ini harus
merupakan farme of work pembahasan penelitian. Kedua, pandangan diarahkan
kedepan, yaitu mengaitkan pada variable – variable dari topic aktual.
Pembahasan tidak lain adalah mencocokkan deduksi dalam kerangka pikiran dengan
induksi yang empiric (hasil pengujian hipotesis), atau pula kepada induksi yang
diperoleh orang lain (hasil penelitian orang lain) yang relevan. Bagaimana
hasil dari mencocokkan ini, apakah cocok (pararel atau analog) atau sebaliknya
(bertentangan atau kontradiksi). Apabila ternyata bertentangan atau tidak cocok
maka perlu dilacak dimana letak perbedaan atau pertentangan itu dan apa
kemungkinan penyebabnya.
Hasil pembahasan tidak lain ialah
kesimpulan. Kesimpulan penelitian adalah penemuan dari hasil interpretasi dan
pembahasan. Penemuan dari interpretasi dan pembahasan harus merupakan jawaban
terhadap pertanyaan penelitian sebagai masalah, atau sebagai bukti dari
penerimaan terhadap hipotesis yang diajukan. Pertanyaan dalam kesimpulan
dirumuskan dalam kalimat yang tegas, padat, tersusun dari kata – kata yang baik
dan pasti, sedemikian rupa sehingga tak menimbulkan tafsiran yang berbeda (apa
yang dimaksud oleh si peneliti harus ditafsirkan sama oleh orang lain).
Pertanyaan – pertanyaan tersusun sesuai dengan identifikasi masalah atau dengan
susunan hipotesisnya.
2.3
Penerapan Metode Ilmiah Terhadap
Penelitian Psikologi
Penelitian adalah investigasi sistematis
yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru. Dimana pengetahuan baru
tersebut merupakan suatu komponen inti dari metode ilmiah dalam psikologi. Hal
ini memberikan kunci untuk memahami sejauh mana tingkat akurasi dari hipotesis (Robert,
2012:44).
Dari
penjelasan diatas dapat diketahui bahwa dalam penelitian psikologi menerapkan
konsep – konsep dalam metode ilmiah seperti identifikasi masalah, penyusunan
kerangka pikiran, perumusan hipotesis, pengujian hipotesis secara empirik,
pembahasan lalu penyimpulan. Yang mana jika si peneliti memahami betul langkah
– langkah dalam metode ilmiah maka akan mempermudah dalam melakukan penelitian
dalam psikologi.
Terdapat
beberapa metode yang diguankan peneliti dalam penelitian psikologi untuk
meneliti seorang, kelompok, atau pola perilaku secara sistematis. Metode –
metode ini termasuk penelitian arsip, observasi naturalistik, penelitian
survey, dan studi kasus.
-
Penelitian arsip
Menggunakan artikel surat kabar
adalah suatu contoh penelitian arsip. Dalam penelitian arsip, data yang
tersedia, seperti dokumen sensus, catatan perguruan tinggi, dan klipping surat
kabar, diteliti untuk menguji suatu hipotesis. Misalnya, catatan perguruan
tinggi dapat digunakan untuk menentukan apakah terdapat perbedaan jenis kelamin
dalam performa akademis. Dalam penelitian arsip ini, jelas bahwa menerapkan
konsep dalam metode ilmiah. Mulai dari identifikasi masalah, menyusun kerangka
pikiran, merumuskan hipotesis, menguji hipotesis secara empirik, melakukan
pembahasan sampai menarik kesimpulan. Tapi, dalam penelitian ini penerapan yang
paling berperan adalah pengujian
hipotesis karena tujuan penelitian mengacu pada hasil penelitian yang akurat.
-
Observasi naturalistik
Dalam observasi naturalistik,
peneliti mengobservasi beberapa perilaku yang terjadi secara alami dan tidak
membuat perubahan apapun dalam situasi tersebut. Misalnya, seorang peneliti
yang meneliti perilaku menolong dapat dapat mengobservasi jenis bantuan yang
diberikan kepada para korban di suatu daerah dengan tingkat kejahatan yang
tinggi di suatu kota. Poin penting yang harus diingat tentang observasi
naturalistik adalah bahwa sang peneliti sekedar mencatat apa yang terjadi,
tanpa membuat modifikasi terhadap situasi yang sedang diobservasi. Dalam
penelitian ini lebih menerapkan kosep penyusunan kerangka pikiran dan perumusan
hipotesis. Karena si peneliti sebelum melakukan observasi harus menyusun apa
saja nanti yang akan dicatat. Sehingga hasil catatannya itu menghasilkan
kesimpulan yang menangkap, menerangkan, serta menunjukkan prespektif terhadap
situasi yang diobservasi.
-
Penelitian survey
Penelitian survey yaitu pengajuan pertanyaan
kepada suatu sampel yang dipilih untuk mewakili suatu kelompok yang lebih besar
dan dianggap menarik (populasi) tentang perilaku, pikiran atau sikap meraka.
Metode survey telah menjadi sedemikian canggih, sehingga dengan suatu sampel
yang sangat kecil pun peneliti dapat menemukan suatu dengan tingkat akurasi
yang tinggi dibandingkan respons dari kelompok yang lebih besar. Misalnya, suatu
sampel yang hanya terdiri atas beberapa ribu orang sudah cukup untuk
memprediksi diantara satu atau dua persen poin tentang siapa yang akan
memenangkan pemilihan presiden, jika sampel tersebut dipilih dengan hati –
hati(Robert, 2012: 45).
Dalam penelitian ini, penerapan dari metode
ilmiah yang paling berperan yaitu identifikasi masalah, penyusunan kerangka
masalah, dan perumusan hipotesis. Karena
dalam penelitian ini diperlukan persiapan penetapan masalah penelitian, apa
yang dijadikan masalah penelitian dan apa objeknya. Oleh karenanya dalam
penelitian ini menerapkan konsep identifikasi masalah dalam metode penelitian.
Lalu setelah menetapkan masalah penelitiannya sang peneliti perlu mengalirkan
jalan pikiran menurut kerangka yang logis atau menurut logical construct. Oleh
karenanya menerapkan konsep penyusunan kerangka pikiran dalam metode ilmiah.
Kemudian sang peneliti dapat memperoleh kesimpulan dari penyusunan kerangka
pikiran tadi yang dalam metode ilmiah disebut perumusan hipotesis.
-
Studi kasus
Studi kasus adalah suatu penelitian
mendalam dan intensif terhadap seorang pribadi atau sekelompok orang kecil.
Studi kasus sering melibatkan pemeriksaan psikologis, suatu prosedur dimana
serangkaian pertanyaan yang didesain secara sesama digunakan untuk mendapatkan
beberapa masukan tentang kepribadian dari seorang individu atau kelompok
tertentu.
Ketika studi kasus digunakan sebagai
teknik penelitian, tujuannya sering kali tidak hanya untuk mempelajari beberapa
individu yang diteliti namun juga untuk menggunakan ide – ide yang diperoleh
dari studi tersebut untuk menigkatkan pemahaman kita tentang manusian secara
umum. Sigmund freud mengembangkan teorinya melalui studi kasus terhadap pasien
individual. Demikian juga, studi kasus terhadap teroris dapat membantu
mengidentifikasikan orang lain yang rentan terhadap kekerasan.
Dalam penelitian ini lebih menerapkan
konsep identifikasi masalah dan penyusunan kerangka pikiran. Karena lebih
menekankan peneliti dalam membuat serangkaian pertanyaan untuk mendapatkan masukan
tentang kepribadian dari seorang individu atau kelompok.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Dari pembahasan diatas, penulis
menyimpulkan bahwa;
a) Metode
ilmiah adalah prosedur atau langkah – langkah sistematis dalam mendapatkan
pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan
melalui metode ilmiah. Metode ilmiah juga dapat diartikan sebagai berikut;
-
Metode ilmiah
adalah proses berpikir untuk memecahkan masalah
-
Metode ilmiah adalah proses berpikir secara sistematis
-
Metode ilmiah
adalah proses berpikir yang terkontrol
b) Metode
adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu dengan langkah –
langkah sistematis. Garis besar langkah – langkah sistematis penelitian adalah:
-
Mencari,
merumuskan, dan mengidentifikasi masalah
-
Menyusun
kerangka pikiran (logical construct)
-
Merumuskan
hipotesis (jawaban rasional terhadap masalah)
-
Menguji
hipotesis secara empirik
-
Melakukan
pembahasan
-
Menarik
kesimpulan
c) Penelitian adalah investigasi
sistematis yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru. Terdapat beberapa
metode yang diguankan peneliti dalam penelitian psikologi untuk meneliti
seorang, kelompok, atau pola perilaku secara sistematis. Metode – metode ini
yaitu:
-
Penelitian arsip
Dalam penelitian arsip ini, lebih menerapkan konsep
pengujian hipotesis dalam metode ilmiah.
-
Observasi naturalistik
Dalam penelitian ini lebih menerapkan
kosep penyusunan kerangka pikiran dan perumusan hipotesis. Karana si peneliti
sebelum melakukan observasi harus menyusun apa saja nanti yang akan dicatat.
Sehingga hasil catatannya itu menghasilkan kesimpulan yang menangkap,
menerangkan, serta menunjukkan prespektif terhadap situasi yang diobservasi.
-
Penelitian survey
Dalam penelitian ini, penerapan dari
metode ilmiah yang paling berperan yaitu identifikasi masalah, penyusunan
kerangka masalah, dan perumusan
hipotesis. Karena dalam penelitian ini diperlukan persiapan penetapan masalah
penelitian, apa yang dijadikan masalah penelitian dan apa objeknya. Lalu sang
peneliti perlu mengalirkan jalan pikiran menurut kerangka yang logis atau
menurut logical construct. Kemudian sang peneliti dapat memperoleh kesimpulan
dari penyusunan kerangka pikiran.
-
Studi kasus
Dalam penelitian ini lebih
menerapkan konsep identifikasi masalah dan penyusunan kerangka pikiran. Karena
lebih menekankan peneliti membuat serangkaian pertanyaan untuk mendapatkan
masukan tentang kepribadian dari seorang individu atau kelompok.
3.2 Saran
Sebagai mahasiswa psikologi yang akan
banyak melakukan penelitian psikologi, sangat bermanfaat apabila kita lebih
memahami tentang metode ilmiah. Karena sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan,
bahwa pada hakikatnya penelitian psikologi menerapkan langkah – langkah
sistematis dalam metode ilmiah. Yang apabila kita memahami benar langkah –
langkah sistematis dalam metoden ilmiah akan sangat bermanfaat bagi kita
sebagai mahasiswa psikologi dalam melakukan penelitian psikologi.
3.3 Daftar pustaka
Feldman,
Robert S. (2012), Pengantar Psikologi, Jakarta: Salemba Humanika.
Komara,
Endang. (2011), Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, Bandung: PT Refika
Aditama.
Soetriono.
(2007), Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian,Yogyakarta: Penerbit Andi.
Sudarto.
(1995), Metodologi Penelitian Filsafat,Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Syaughnessy,
John. (2007), Metode Penelitian Psikologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.